Sabtu, 29 Mei 2010
Rabu, 28 April 2010
Rabu, 21 April 2010
Rabu, 27 Januari 2010
28 years old.
-->
28 years old.
Birthday will never be a celebration anymore for me since I took all the shackles and wrapped them all around my hands [meaning when I started to get my own money and let myself be equated with all those bills and expenses, and when my beloved father was die one day before my celebration.] Birthday will be more like a day when I get lost, trying to empty my head, my mind.
The morning felt like spring, did you notice? I took a walk while everyone was at church and could have cried, it was so lovely.
My phone ringing… so busy…, but just one person I’m waiting for….????
My phone ringing… so busy…, but just one person I’m waiting for….????
But…, until right now.., no one message from him.
Never mind.., because I know everything happen is any reason.., and Memories good or bad will bring tears, and words can never replace these feelings.
Twenty years from now you will be more disappointed by the things that you didn’t do than by the ones you did do. So throw off the bowlines. Sail away from the safe harbor. Catch the trade winds in your sails. Explore. Dream and Discover
So…today in my birthday…, with song a song from Jennifer Love Hewitt:
I take my heart and leave him a picture on the floor…., Steal back my memories. I can't take it anymore , I've cried my eyes out , now I face the years, The way you loved me , Vanished all the tears.
God...Thanks for everything in my life..., now I’m a 28years old...Hope everything can be realize with a good condition in the world.
Yeah. Good day.
Yohana Fransiska Lily
Rabu, 13 Januari 2010
Hanya Benih
-->
Seorang wanita bermimpi masuk ke sebuah toko. Ia sangat terkejut bertemu Tuhan disana.
“Tuhan, Engkau sedang jualan apa di sini?” Tuhan pun menjawab, “Semua yang menjadi keinginan hatimu, tersedia di sini”. Mendegar itu, wanita ini segera meminta hal-hal terbaik dari yang diinginkannya. Ia pun langsung membeberkan permintaanya, “Tuhan, sudi kiranya Engkau memberikan kepadaku kekayaan, kebahagiaan, ketentraman, dan kesehatan”. Sejenak suasana hening. Tak berapa lama kemudain Tuhan berkata sambil tersenyum, “Anak-Ku, tampaknya engkau keliru menanggapi perkataan-Ku. Di sini tidak dijual buah. Kami hanya menjual benihnya. “ Dan wanita itu pun terbangun.
Kita sering berpikir seperti wanita itu. “Mengapa hidupku tetap seperti ini, padahal aku sudah ikut Tuhan?” harus kita akui, kita kerap menginginkan cara instan, padahal Tuhan sangat menghargai proses. Itu sebabnya, Tuhan hanya memberikan benih bagi kita. Bagian kita adalah mengusahakan supaya benih itu pada akhirnya menjadi buah dalam hidup kita. Pendek kata, benih sukacita, ketentraman, kekayaan dan berkat; semua sudah Tuhan berikan. Pertanyaannya, sudahkah kita mengusahakan benih itu sehingga menjadi buah dalam hidup kita?
Kita layak berbahagia. Kita berhak mendapatkan semua berkat yang sudah Tuhan sediakan bagi orang-orang yang mengasihi Dia. Tapi, untuk mendapatkannya kita harus mengusahakannya. Benihnya sudah ada, tinggal kita pintar-pintar merawatnya sampai menjadi buah.
Pertanyaannya.."Sudahkah kita merawatnya dan menghasilkan buah? marilah kita bergandengan tangan untuk menghasilkan buah yang berlimpah.." Gbu
“Tuhan, Engkau sedang jualan apa di sini?” Tuhan pun menjawab, “Semua yang menjadi keinginan hatimu, tersedia di sini”. Mendegar itu, wanita ini segera meminta hal-hal terbaik dari yang diinginkannya. Ia pun langsung membeberkan permintaanya, “Tuhan, sudi kiranya Engkau memberikan kepadaku kekayaan, kebahagiaan, ketentraman, dan kesehatan”. Sejenak suasana hening. Tak berapa lama kemudain Tuhan berkata sambil tersenyum, “Anak-Ku, tampaknya engkau keliru menanggapi perkataan-Ku. Di sini tidak dijual buah. Kami hanya menjual benihnya. “ Dan wanita itu pun terbangun.
Kita sering berpikir seperti wanita itu. “Mengapa hidupku tetap seperti ini, padahal aku sudah ikut Tuhan?” harus kita akui, kita kerap menginginkan cara instan, padahal Tuhan sangat menghargai proses. Itu sebabnya, Tuhan hanya memberikan benih bagi kita. Bagian kita adalah mengusahakan supaya benih itu pada akhirnya menjadi buah dalam hidup kita. Pendek kata, benih sukacita, ketentraman, kekayaan dan berkat; semua sudah Tuhan berikan. Pertanyaannya, sudahkah kita mengusahakan benih itu sehingga menjadi buah dalam hidup kita?
Kita layak berbahagia. Kita berhak mendapatkan semua berkat yang sudah Tuhan sediakan bagi orang-orang yang mengasihi Dia. Tapi, untuk mendapatkannya kita harus mengusahakannya. Benihnya sudah ada, tinggal kita pintar-pintar merawatnya sampai menjadi buah.
Pertanyaannya.."Sudahkah kita merawatnya dan menghasilkan buah? marilah kita bergandengan tangan untuk menghasilkan buah yang berlimpah.." Gbu
Senin, 11 Januari 2010
My Mother : Maria Parsi
-->
Suatu waktu ada seorang anak siap terlahir ke dunia.
Suatu hari anak itu bertanya pada Tuhan,”Mereka bilang, besok Kau akan mengirim aku ke dunia, tapi bagaimana saya akan hidup di dunia yang sedemikian kecil dan tanpa seorang penolong?”
Tuhan menjawab, “Di antara sekian banyak malaikat Aku telah memilih satu untukmu. Ia sedang menunggumu dan akan memeliharamu.”
Anak itu berkata, “Tapi, di surga ini, saya tidak melakukan apapun selain menyanyi dan tersenyum. Itulah yang kubutuhkan agar kubahagia.”
Jawab Tuhan, “Malaikatmu akan bernyanyi setiap hari. Kau akan merasakan kasih sayangnya dan dengannya kau akan bahagia.”
Lagi kata anak itu, “Bagaimana saya akan dapat mengerti ketika orang akan berkata kepadaku, jika saya tidak mengerti bahasa yang mereka pakai?”
“Mudah anakKu,” kata Tuhan, “Malaikatmu akan mengatakan padamu kata-kata yang indah dan manis yang akan pernah kau dengar dan dengan sabar dan penuh perhatian akan mengajari engkau berbicara.”
Anak itu memandang Tuhan dan berkata,
“Apa yang akan kubuat jika aku ingin berbicara denganMu?”
Tuhan tersenyum seraya berkata,
“Malaikatmu akan mengajarimu bagaimana berdoa.”
Kata anak itu,” Saya sudah dengar bahwa di dunia ada banyak orang jahat. Siapa yang akan melindungiku?”
Jawab Tuhan,
“Malaikat itu akan melindungimu, pun jika hal itu mengancam hidupnya.”
Anak itu kelihatan sedih, dan berkata, “Tapi saya akan sedih sebab saya tidak akan melihatMu lagi.”
Tuhan menjawab, “Malaikatmu akan menceritakan padamu tentang Aku dan akan mengajarkan padamu jalan untuk kembali padaKu, walaupun Aku akan selalu berada di depanmu.”
Pada saat itu, walaupun di Surga terasa begitu damai, tetapi suara-suara di dunia semakin terdengar…
Dengan tergesa-gesa, anak itu berkata dengan lembut, “Tuhan, jika sekarang saya akan berangkat, tolong katakan siapa nama malaikatku itu.”
Jawab Tuhan, “Namanya tidaklah penting … kau akan dengan sederhana memanggilnya MAMA”
“Terima kasih ibu, kaulah malaikatku”

Dedication to: My Mother "Maria Parsi"
Langganan:
Postingan
(
Atom
)